Melodi di Ujung Lorong
August 16, 2024
Di sebuah kota kecil yang sepi, terdapat sebuah gedung tua yang telah lama ditinggalkan. Cerita tentang gedung itu beredar di kalangan penduduk setempat. Konon, di ujung lorongnya, terdengar melodi indah yang membuat siapa pun yang mendengarnya tak bisa melupakan. Suara itu seakan melampaui waktu, menjelajahi pikiran dan perasaan, menyentuh jiwa setiap orang yang berani mendekati gedung tersebut.
Alina, seorang gadis remaja dengan rasa penasaran yang tinggi, selalu mendengar cerita tersebut dari neneknya. Melodi itu selalu digambarkan sebagai suara lembut dari piano yang dimainkan dengan penuh perasaan. Suatu malam, dorongan rasa penasarannya memaksa Alina untuk pergi ke gedung tua itu. Dengan langkah diiringi oleh detak jantung yang berdebar, ia memasuki pintu yang sudah berkarat.
Lorong gelap itu dipenuhi debu dan sisa-sisa ingatan. Lampu-lampu tua bergetar, seolah menyambut kehadirannya. Perlahan-lahan, Alina melangkah lebih dalam ke lorong tersebut ketika tiba-tiba, suara melodi lembut itu mulai terdengar. Gemerisik itu seakan memanggil, menariknya semakin dekat ke ujung lorong.
Alina mengikuti suara itu dengan hati-hati. Setiap not melodi membuatnya terhanyut dalam rasa nostalgia, seolah mengingat kembali kenangan yang tidak pernah dimilikinya. Di ujung lorong, ia melihat sebuah ruang besar dengan piano tua yang terlihat berkilau meski dalam kegelapan. Di depan piano, terlihat sosok siluet seorang wanita lanjut usia yang sedang memainkan alat musik itu.
Dengan penuh rasa ingin tahu dan sedikit ketakutan, Alina melangkah mendekat. Wanita itu menoleh dan tersenyum lembut. “Selamat datang, Nak. Apa kamu merindukan suara ini?” tanya wanita itu, suaranya lembut dan penuh kehangatan.
“Siapa Anda?” tanya Alina, terpesona oleh kehadiran sosok yang tampaknya familiar meski baru pertama kali dilihatnya.
“Saya hanya pengembara antara dua dunia, memainkan melodi bagi mereka yang ingin mendengar,” jawab wanita itu. Dengan isyarat, dia mengajak Alina duduk di sampingnya. “Setiap not membawa cerita. Cerita tentang harapan, cinta, dan kehilangan.”
Alina merasa seolah sedang berada dalam mimpi. Mereka berbagi cerita dalam balutan melodi yang indah. Melodi tersebut membawa Alina kembali ke kenangan indah bersama keluarganya, momen-momen yang terlupakan, dan rasa damai yang selalu ia cari.
Hingga malam berganti pagi, melodi itu berlanjut. Ketika fajar merangsek masuk ke gedung tua tersebut, wanita itu mendekap piano dengan lembut. “Waktuku telah tiba, Nak. Melodi ini akan selalu ada dalam hatimu. Ingatlah bahwa setiap akhir adalah awal baru.”
Saat Alina membuka matanya, sosok wanita itu telah menghilang, meninggalkan hanya suara piano yang perlahan memudar. Ia menyadari bahwa ia kini membawa pulang melodi dan cerita yang tidak akan pernah pudar. Dengan penuh keindahan dalam hatinya, Alina melangkah keluar dari gedung tua itu, siap untuk menyambut hidup dengan penuh semangat.
—
**Deskripsi Gambar untuk Artikel:**
Gambar menggambarkan interior gedung tua yang gelap dan misterius, dengan lorong panjang yang dipenuhi oleh cahaya remang-remang. Di ujung lorong, terdapat sebuah ruang musik dengan piano tua yang berkilau. Seorang wanita lanjut usia terlihat duduk di depan piano sedang bermain, sementara seorang gadis remaja memandang dengan penuh kagum. Latar belakang menggambarkan debu yang berkilauan terkena cahaya, memberikan suasana magis dan nostalgia.