Penghuni Rumah di Ujung Jalan
August 16, 2024
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan lebat, terdapat sebuah rumah tua yang terletak di ujung jalan. Rumah itu sudah tidak terawat lagi, atapnya rumput tumbuh lebat dan jendela-jendelanya berdebu karena tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun. Masyarakat desa mempercayai bahwa rumah itu dihuni oleh seorang nenek tua bernama Nenek Siti.
Nenek Siti dikenal sebagai sosok yang misterius. Jarang sekali dia keluar dari rumahnya, dan tidak ada seorang pun yang berani mendekat. Beberapa anak-anak desa bahkan mengatakan bahwa Nenek Siti memiliki kekuatan magis dan bisa berkomunikasi dengan roh. Namun, tak ada yang benar-benar tahu cerita di balik kehidupan Nenek Siti.
Suatu hari, Rina, seorang gadis berusia sepuluh tahun yang penasaran, memutuskan untuk mendekati rumah tersebut. Dengan langkah hati-hati, dia mendekat. Ia melihat tanaman liar menjalar di pagar yang sudah lapuk, namun ada keindahan tersembunyi di antara kebusukannya. Saat Rina berdiri di depan pintu, sebuah suara lembut memanggilnya.
“Siapa yang berani datang ke sini?” Suara itu berasal dari dalam rumah.
Berkuncinya jantung Rina, tetapi rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. “Saya Rina, Nenek!” jawabnya pelan.
Pintu rumah terbuka perlahan, dan Nenek Siti muncul dengan senyuman lembut di wajahnya. “Masuklah, nak. Aku tidak makan manusia,” candanya.
Rina melangkah masuk dan segera terpesona oleh suasana dalam rumah. Dindingnya dipenuhi foto-foto lama, dan ruangan itu berbau rempah-rempah yang hangat. Nenek Siti mengundangnya duduk dan mulai bercerita.
“Tahu tidak, nak, rumah ini dulunya ramai. Ini adalah tempat berkumpulnya keluarga dan teman-temanku,” ujarnya sambil menunjukkan foto-foto yang terbingkai. “Tapi, seiring berjalannya waktu, mereka semua pergi, dan aku tinggal sendirian.”
Rina mendengarkan penuh perhatian, heran sekaligus terharu. Nenek Siti kemudian mengungkapkan bahwa dia merindukan anak-anak yang ceria dan tawa di rumahnya. “Jika kau mau, aku bisa membagikan cerita-cerita kepadamu. Itu akan membuat rumah ini kembali hidup,” katanya.
Sejak hari itu, Rina rutin mengunjungi Nenek Siti. Dari kisah-kisah petualangan di masa lalu hingga cerita-cerita dongeng yang menakjubkan, waktu berlalu begitu cepat. Rina menemukan bahwa nenek tua ini lebih dari sekadar penghuni rumah di ujung jalan; dia adalah penyimpan sejarah dan kehangatan yang telah hilang.
Setiap kunjungan Rina menjadikan rumah tua itu hidup kembali. Warga desa pun mulai mendengar tentang kehadirannya dan perlahan-lahan rasa takut mereka memudar. Mereka pun menyadari bahwa di balik penampilan yang menakutkan, terdapat jiwa yang penuh kasih sayang dan cerita yang menunggu untuk dibagikan.
Hari-hari berlalu, dan rumah di ujung jalan yang dulunya sepi, kini dipenuhi tawa anak-anak yang datang mendengarkan dongeng-dongeng dari Nenek Siti. Rina dan Nenek Siti menjadi sahabat sejati, menunjukkan bahwa meskipun sepenuhnya berbeda, cinta dan keingintahuan dapat menjembatani segala jarak dan kesepian.
—
**Deskripsi Gambar:** Sebuah ilustrasi romantis yang menggambarkan rumah tua dengan atap daun hijau, tanaman merambat di pagar yang dengan warna-warna cerah. Di depan rumah, Nenek Siti, seorang nenek berambut putih dengan wajah lembut, sedang duduk di teras sambil tersenyum kepada Rina, gadis kecil dengan mata penuh rasa ingin tahu, yang berdiri di ambang pintu. Latar belakangnya adalah hutan lebat yang memberikan suasana misterius dan memikat.